Contoh Makalah Pertanian, Pengendalian Penyakit Bercak Daun Cabai

PENYAKIT BERCAK DAUN CABAI (Cercospora capsici) PADA TANAMAN CABAI (Capsicum annum)

PENYAKIT BERCAK DAUN CABAI (Cercospora capsici)PADA TANAMAN CABAI (Capsicum annum)

                       
                                                                                                                                                                                                                                                                                 
KATA PENGANTAR
            Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan karunia rahmatNya penulis dapat menyelesaikan laporan ini dengan baik dan tepat pada waktunya.
            Adapun judul dari laporan ini adalah Bercak Daun Cabai ( Cercospora capsici ) pada tanaman cabai Capsicum annum) dengan tujuan dari laporan ini adalah sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di laboratorium Dasar Perlindungan Tanaman sub-penyakit Departemen Hama Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
            Pad kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada Ir. Lahmuddin Lubis, MP, Ir. Mukhtar Iskandar Pinem, M.Agr, Ir. Marheni, MP, Ir. Mena Uly Tarigan, MS. sebagai Dosen Penanggungjawab serta para asisten yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan laporan ini.
            Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan laporan ini dimasa mendatang.
            Akhirnya penulis berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua.







Medan, Mei 2011

Penulis,


PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Cabai merupakan tanaman perdu dari famili terung-terungan (Solaneceae). Keluarga ini diduga memiliki sekitar 90 genus dan sekitar 2000 spesies yang terdiri dari tumuhan herba, semak, dan tumbuhan kerdil lainnya. Dari banyak spesies tersebut, hampir dapat dikatakan sebagian besar merupakan tumbuhan beriklim tropis. Namun, secara ekonomis yang dapat atau sudah dimanfaatkan berupa beberapa spesies saja. Diantaranya yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari adalah kentang (Solanum tuberosum), tomat (Lycopersicum esculantum), dan tembakau (Nicotiana tabacum) (Setiadi, 2004).
            Cabai (Capsicum sp.) merupakan salah satu sayuran dan rempah paling penting di dunia. Genus Capsicum berasal dari dunia baru, spesies Capsicum annum dari Meksiko, dan spesies lain (Capsicum frustescens, Capsicum baccatum, Capsicum chinense, dan Capsicum pubescens) dari Amerika Selatan. Oleh pedangang Portugis dan Spanyol, cabai diintroduksikan ke Asia pada abad ke-16, dan spesies canai pedas tersebar paling luas di Asia Tenggara (Sanjaya,dkk,2002).
            Aspek penting pertanian berkelanjutan antara lain, bagaimana sistem budidaya pertanian tetap memelihara kesehatan tanaman dengan kapasitas produksi maksimum, serta mengurangi dampak kegiatan pertanian yang dapat menimbulkan pencemaran dan penurunan kualitas lingkungan hidup. Berbagai jenis organisme penggangu tanaman (OPT) dapat mengganggu kesehatan tanaman, yang dapat mengakibatkan penurunan hasil produksi dan penurunan kualitas produk (Siwi,2006)
            Penyakit tanaman mempunyai arti penting bagi masyarakat karena dapat menimbulkan kerusakan serta kerugian bagi tanaman atau hasil olahanya. Bagi jutaan umat manusia di dunia ini, yang kehidupanya sangat tergantung kepada hasil tanaman yang diusahakannya, maka penyakit tanaman adalah salah satu yang dapat menimbulkan perubahan dan perbedaan antara satu kehidupan yang sejahtera dengan kehidupan yang selalu diburu oleh kekurangan pangan atau mati kelaparan (Djafaruddin, 2008).
            Penyakit dapat dikenal dengan mata telanj**g dari gejalanya atau simptomnya. Penyakit tumbuhan di alam yang belum ada campur tangan manusia adalah hasil interaksi antara pathogen, inang, dan lingkungan. Konsep ini disebut segitiga penyakit atau plant disease triangle, sedangkan penyakit tanaman yang terjadi setelah ada campur tangan manusia adalah hasil interaksi antara pathogen, inang, lingkungan, dan manusia. Konsep ini disebut segitiga penyakit atau plant disease square (Triharso,2004).  
            Bercak pada daun cabai merupakan salah satu penyakit penting dalam perkembangan cabai di daerah tropis yang panas dan lembab. Serangan penyakit ini disebabkan oleh cendawan Cercospora capsici dan mengakibatkan daun akan mengalami keadaan yang tidak sehat dan akhirnya gugur (Hidayat,2004).

           
Tujuan Penulisan
            Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui tentang penyakit bercak daun cabai (Cercospora capsci) pada tanaman cabai       (Capsicum annum)
Kegunaan Penulisan
Adapun kegunaan dari penulisan ini adalah : sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di laboratorium Dasar Perlindungan Tanaman, Departemen Hama Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian,    Universitas Sumatera Utara, Medan. Dan sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

           






TINJAUAN PUSTAKA
Tanaman Cabai
Botani Tanaman Cabai
            Tanaman cabai (Capsicum annum) adalah merupakan tanaman sayuran hortikultura yang tergolong tanaman setahun, berbentuk perdu, dari famili terong-terongan (Solanaceae). Menurut Plantamor (2011) tanaman cabai dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom         : Plantae
Devisio            : Spermatophyta
Subdevisio      : Angiospermae
Ordo                : Polemoniales
Famili              : Solanaceae
Genus              : Capsicum
Spesies            : Capsicum annum L.
            Tanaman cabai termasuk tanaman semusim yang tergolong ke dalam famili Solanaceae, buahnya sangat digemari, karena memiliki rasa pedas dan merupakan perangsang bagi selera makanan. Selain itu, buah cabai memiliki kandungan vitamin-vitamin, protein dan gula fruktosa. Di Indonesia tanaman ini mempunyai arti ekonomi penting dan menduduki tempat kedua setelah sayuran kacang-kacangan (Rusli, 1997).
            Cabai merupakan salah satu komoditi hortikultura yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia, karena selain sebagai penghasil gizi, juga sebagai bahan campuran makanan dan obat-obatan. Daerah pertanaman cabai tersebar di pulau Jawa seperti Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah, sedangkan kawasan luar jawa meliputi Lampung, Sumatera Barat, Aceh, dan Sumatera Utara (Rompas, 2001).
            Tanaman cabai (Capsicum annum) berbentuk perdu yang tingginya       1,5-2 m dan lebarnya tajuk tanaman dapat mencapai 1,2 m. Daun cabai pada umumnya berwarna hijau cerah pada saat masih muda dan akan berubah menjadi hijau gelap bila daun sudah tua. Daun cabai ditopang tangkai daun yang mempunyai tulang menyirip. Bentuk daun umumnya bulat telur, lonjong, dan oval dengan ujung runcing, tergantung pada jenis dan verietasnya. Bunga cabai berbentuk terompet atau campanulate, sama dengan bentuk bunga keluarga solanaceae lainnya. Bunga cabai berkelamin dua (Hermaprodit) dalam satu bunga terdiri dari satu alat kelamin jantan dan betina dan berwarna putih bersih. Bunga tersusun di atas tangkai bunga terdiri atas dasar bunga kelopak bunga dan mahkota bunga. Letak buah menggantung panjang sampai 1-1,5 cm panjang tangkai bunga 1-2 cm. Bentuk buahnya berbeda-beda menurut jenis dan varietasnya (Tindall,1983).
            Buah cabai merupakan buah sejati tunggal terdiri dari satu bunga dan satu bakal buah. Buahnya bulat sampai bulat panjang, mempunyai 2-3 ruang yang berbiji banyak. Permukaan buah rata dan licin. Letak buah yang telah tua (matang) umumnya kuning sampai merah sampai mengkilap dengan aroma yang berbeda sesuai dengan varietasnya. Bijinya kecil, bulat pipih seperti ginjal (buah pinggang) yang warnanya kuning kecoklatan. Berat 1000 biji kering berkisar antara 50-60 hari sejak bunga mekar (Sunaryono, 1996).
Syarat Tumbuh
Iklim
            Curah hujan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan produksi buah cabai. Curah hujan yang ideal untuk tanaman cabai adalah 1000 mm/tahun. Curah hujan yang rendah menyebabkan tanaman kekeringan dan membutuhkan air untuk penyiraman. Sebaliknya, jika curah hujan yang tinggi bias merusak tanaman cabai serta membuat lahan penanaman becek dan kelembapannya tinggi (Setiadi,2004).
            Kelembapan yang cocok bagi tanaman cabai berkisar antara 70-80%, terutama saat pembentukan bunga dan buah. Kelembapan yang melebihi 80% memacu pertumbuhan cendawan yang berpotensi menyerang dan merusak tanaman. Sebaliknya jika iklim yang kurang dari 70% membuat cabai kering dan mengganggu pertumbuhan generatifnya, terutama saat pembentukan bunga, penyerbukan, dan pembentukan buah (Agromedia, 2011).
            Bila tanaman cabai ditanam di daerah yang berkelembapan tinggi dengan curah hujan per tahun antara 600-1250 mm maka tanaman cabai mudah terserang penyakit, terutama penyakit antrak (penyakit patek) yang sering menyerang cabai dalam situasi sangat lembab (Setiadi, 2004)
Tanah
            Cabai menyukai tanah yang gembur dan banyak mengandung unsur hara. Cabai tumbuh optimal di tanah regosol dan andisol. Penambahan bahan organic, seperti pupuk kandang dan kompos, saat pengolahan tanah atau sebelum penanaman dapat diaplikasikan untuk memperbaiki struktur tanah serta mengatasi tanah yang kurang subur dan miskin unsur haranya (Agromedia,20011)
            Penanaman cabai sebaiknya memilih lahan yang agak miring untuk menghindari genangan air. Namun, tingkat kemiringan lahan tidak lebih dari 25%. Lahan yang terlalu miring menyebabkan erosi dan hilangnya pupuk, karena tercuci oleh air hujan (Setiadi, 2004).
            Kadar keasaman pH tanah yang cocok untuk penanaman cabai secara intensif adalah 6-7. Tanah yang pH renfah atau masam harus dinetralkan dulu dengan cara menyebarkan kapur pertanian. Sebaliknya, jika tanah terlalu basa atau pH-nya tinggi bias dinetralkan dengan cara menaburkan belerang ke lahan penanaman (Agromedia, 2011).
            Secara umum, cabai bisa ditanam pada ketinggian lahan dari 1-2000 m dpl. Ketinggian tempat berpengaruh pada jenis hama dan penyakit yang menyerang cabai. Di dataran tinggi penyakit yang menyerang biasanya disebabkan cendawan dan jamur, sedangkan di lahan dataran rendah biasanya penyakit yang menyerang dipicu oleh bakteri (Setiadi, 2004).
Biologi Penyakit
            Adapun menurut Wikipedia (2011), cendawan yang disebut        Cecospora capsici dapat di klasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom         : Fungi
Filum               : Ascomycota
Kelas               : Dothideomycetidae
Ordo                : Capnodiales
Famili              : Mycosphaerellaceae
Genus              : Cercospora
Spesises           : Cercospora capsici
            Sifat yang khas bagi Ascomycota adalah pembentukan askospora sebagai hasil dari plasmogami, kariogami, dan meosis, karena itu askopora bersifat haploid. Askospora dibentuk dalam satu kantong yang disebut askus, sedangkan askus dibentuk di dalam badan buah yang disebut askokarp, yang bentuknya bermacam-macam (Triharso, 2004)
            Hifa pada umumya bersepta dan terdiri dari sel berinti tunggal. Terdapat haustoria di dalam bentuk penyakit tepung atau jamur jelaga. Beberapa sel hifa dipisahkan dengan umur dan membentuk konidia atau dindinya menjadi tebal dan membentuk klamidospora. Dalam beberapa Ascomycetes miselia mengalami agregasi ke dalam massa yang kompak dan disebut sklerotia atau stomata. Dalam tingakt ini jamur mampu bertahan dalam waktu lama dengan kondisi yang tidak cocok. Dalam beberapa spesies obligat hifa mempertahankan diri dalam ranting atau kuncup dan miseliumnya adalah perennial (Djafaruddin, 2008).
            Mayoritas Ascomycetes mempunyai satu atau lebih tingat aksesual atau konidial. Konidia dalam tingkat as*ksual adalah sangat bervariasi, tergantung pada spesies. Mereka terdiri dari satu, dua, atau banyak sel dan terjadi bebas pada ujung konidifor atau dalam badan buah, yang menurut strukturnya disebut acervuli, pycnidia atau sporodochia. Dalam beberapa hal konidia mampu bertahan dari tahun ke tahun dalam badan buah ini (Triharso, 2004).
            Karakteristik aski berkembang sendirian atau dalam kelompok dalam lapiasan seperti palisade pada permukaaan jaringan yang terkena, seperti pada daun menggulung atau mereka berkelompok dalam badan buah tertentu atau askokarp yang dikenal sebagai perithecia (sphere fungi atau pyrenomycetes), apothecia (Fungi cakram atau mangkuk, Discomycetes) (Djafaruddin, 2008).
Gejala Serangan
            Tanda-tanda serangan penyakit ini biasanya tampak pada daun. Daun biasanya akan dipenuhi bercak-bercak berwarna kepucatan yang awalnya berukuran kecil akhirnya secara perlahan membesar. Pada bagian pinggiran daun terdapat bercak berwarna lebih tua (sering berwarna kecoklatan) dari berwarna coklat di bagian tengahnya. Selain itu, sering terjadi sobekan di pusat tersebut. Biasanya jika sudah begini, daun akan langsung gugur walaupun adakalanya daun tidak langsung gugur, tetapi berubah warna menjadi kekuningan dahulu sebelum akhirnya gugur (Setiadi, 2004).
            Penyakit bercak pada daun cabai (Capsicum annum) sangat mudah kelihatan dengan mata telanj**g, karena Cercospora capsici hanya menyerang bagian daun cabai saja (menyerang tanaman inangnya) tidak menyerang pada bagian batang maupun akar. Bercak yang dibuatnya bisa sampai berlubang, dengan ukuran berlubang bisa mencapai 0,5 cm (Matnawy,1989).
            Cendawan Cercorpora capsici menyerang tanaman inangnya pada bagian daun cabai saja. Cendawan ini sangat berbahaya karena dapat mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai (menggangu metabolisme tubuh tanaman cabai). Apabila curah hujan yang sangat tinggi atau tingkat kelembapan pada suatu areal pertanaman cabai dan pola jarak tanam tanaman cabai akan mempercepat proses perkembangbiakan cendawan tersebut (Setiadi, 2004).


Faktor yang mempengaruhi penyakit
            Penyakit bercak daun cabai adalah salah satu penyakit terpenting yang meyerang cabai di Indonesia. Penyakit ini distimulir oleh kondisi lembab dan suhu relative tinggi. Penyakit bercak daun cabai dapat menyebabkan kerusakan sejak dari persemaian sampai tanaman cabai berbuah. Penyakit ini menyebabkan masalah serius terhadap perkembangan tanaman cabai (Syamsuddin, 2007).
            Penyakit bercak daun cabai akan berkurang pada musim kemarau, di lahan yang mempunyai drainase baik, dan gulmanya terkendali dengan baik. Perkembangan bercak daun cabai paling baik terjadi pada suhu 300C. Daun yang lebih muda lebih mudah terserang daripada daun yang lebih tua (Setiadi, 2004).
            Pola jarak tanam juga mempengaruhi proses perkembangbiakan penyakit bercak daun cabai. Apabila jarak tanam terlalu rapat maka akan menyebabkan perkembangbiakan penyakit tersebut semakin mudah dan cepat, sebaliknya apabila jarak tanam terlalu jauh maka akan mengurangi hasil produksi. Maka sebaiknya pola jarak tanam disesuaikan dengan keadaan topografi daerah pertanaman.(Semangun, 2004).
Pengendalian
            Pengendalian dengan menanam jenis-jenis yang tahan (resistant variety) merupakan cara yang aman karena memiliki selektifitas yang tinggi. Ada 3 macam ketahanan tanaman terhadap penyakit, yaitu ketahanan mekanis, ketahanan fungisional, dan ketahanan fisiologi. Ketiganya ini telah di uji secara selektifitas melalui seleksi alam (Djafaruddin, 2008).
            Pengendalian dengan cara kultur teknis yaitu dengan cara mulai dari pemilihan lahan untuk tempat menanamnya, memilih bibi yang baik, mengerjalan tanah yang ditanamani dengan baik, memilihara areal pertanaman tanaman cabai dengan baik hingga sampai memanennya (Triharso, 2004)
            Pengendalian yang sering digunakan para petani adalah dengan menggunakan fungisida. Bermacam-macam fungisida dapat di pakai dalam pengendalian ini, antara lain Baycor 300 EC (dosis 1 cc/l air), Velimex 80 WP (dosis 2-2,5 g/l air), Dithane M-45 (dosis 180-240 g/100 l air) dan benomyl (dosis sesuai label) (Setiadi, 2004).
            Pengelolaan tanaman terpadu (PTT) bertujuan untuk memperbaiki pertumbuhan tanaman dan menurangi masalas-masalah hama dan penyakit. Mulsa dapat sebagai salah satu PTT. Penggunaan mulsa sintetis dapat menjadi salah satu metode untuk menolak serangga tertentu, untuk mengendalikan beberapa pathogen yang ditularkan melalui tanah dan rumput-rumputan, untuk memodifikasi suhu tanah, mengurangi penguapan, mengendalikan pencucuian unsur hara, untuk meningkatkan hasil panen dan memperbaiki kualitas hasil panen (Vos, 1994).
           

                                                                                                                     

           

           
PERMASALAHAN
            Tanaman cabai (Capsicum annum) dapat tumbuh pada beriklim tropis yang memiliki curah hujan yang ideal untuk tanaman tersebut adalah               1000 mm/tahun. Tetapi, keadaan curah hujan/ iklim di suatu lingkungan pertanaman tanaman cabai tidak selalu stabil. Itu disebabkan oleh cuaca yang tidak menentu karena global warming/ pemanasan global pada masa kini. Hal ini akan mengakibatkan produksi tanaman cabai menurun.
            Cendawan Cercospora capsici mengakibatkan tanaman cabai terserang penyakit yang sering disebut bercak daun cabai yan menyerang bagian daun cabai. Cendawan ini menyerang pada saat suatu areal pertanaman yang  memiliki kelembapan yang tinggi dan pola jarak tanam yang begitu rapat. Sehingga cendawan ini dengan cepat mengalami perkembangbiakan. Maka suatu areal pertanaman cabai haruslah mengatur kelembapan suatu areal terssebut supaya penyakit ini dapat di minimalisir. Sebaiknya mengatur pola jarak tanam dengan baik sehingga dapat menghambat perkembangbiakan cendawan tersebut.
            Penyakit bercak daun cabai (Cercospora capsici) dapat mengurangi daya produksi tanaman cabai (Capsicum annum) sehingga penyakit ini harus diminimalisir dengan berbagai cara pengendalian, yaitu dengan kultur teknis, fisik, mekanis, biologi, maupun secara kimia. Secara kimia adalah cara yang paling efektif, karena dapat menggunakan fungisida dengan cara cepat dan tepat dan mudah diperoleh. Tetapi penggunaan fungisida tersebut harus tergantung pada dosis yang dianjurkan.
           
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.      Tanaman cabai (Capsicum annum) merupakan jenis tanaman yang beriklim tropis dan memiliki curah hujan yang ideal 1000 mm/tahun.
2.      Cendawan Cercospora capsici termasuk filum dari ascomycota yang perkembangbiakannya secara as*ksual maupun s*ksual.
3.      Penyakit bercak daun cabai (Cercospora capsici) mempunyai gejala yang daunnya berwarna kuning kecoklatan yang pada pusatnya berlubang kecil.
4.      Cendawan Cercospora capsici dapat berkembangbiak dengan cepat apabila suatu areal pertanaman memiliki kelembapan yang tinggi dan pola jarak tanama yang rapat.
5.      Penyakit bercak daun cabai dapat dikendalikan dengan beberapa macam, yaitu dengan cara kultur teknis, fisik, mekanis, biologi, maupun dengan cara kimia.
Saran
            Pada saat memulai menanam cabai (Capsicum annum) sebaiknya memilih areal pertanaman yang memiliki kelembapan 1000 mm/tahun dan pola jarak tanam yang tidak rapat akan dapat mengurangi penyakit bercak daun cabai (Cercospora capsici) dan dapat menghemat pengeluaran biaya untuk membeli fungisida.




DAFTAR PUSTAKA
Daniel, A. 1972. Fudamental Of Plant Pathology, W.H.Reemen and Company.     San Fransisco. Toppan Limited Tokyo. Japan.
Dehne, W.H. 1997. Diagnosis and Indentification Of Plants Pathogens. Kluwer    Academic Publishers. London.
Djafaruddin. 2008. Dasar-Dasar Pengendalian Penyakit Tanaman.               Penerbit Bumi Aksara. Jakarta.
Djas, F. 1980. Classification Of Fungi and Spesific Characteristic of Each Class.   Fakultas Pertanian USU.Medan.
Http://www.Agromedia.net/info/mengenal-syarat-tumbuh-cabai. diakses pada        11 Mei 20011.            
Matnawy. 1991. Perlindungan Tanaman. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Sanjaya, Y. 2004. Pengendalian Pembangunan Insektisida dan Sistem        Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Terhadap Kelimpahan Plankton.         Journal Of       Biological Science, Biosmart 6, Nomor 2,.135.
Semangun, H. 1996. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. University Gadjah         Mada Press. Yogyakarta.
Semangun, H.1996. Penyakit-Penyakt Tanaman Hortikultura di Indonesia.            Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Setiadi. 2004. Bertanam Cabai. Penebar Swadaya. Jakarta.
Siwi, S.S. 2006. Peran Ilmu Biotaksonomi Serangga Dalam Pembangunan Pertanian Berkelanjutan di Era Globalisasi. Berita Biologi Vol. 8.                  1 April 2006.
Tindall, H.D. 1983. Vegetable in The Tropics. Mac Milan Press Ltd. London.
Triharso. 2004. Dasar-Dasar Perlidungan Tanaman. Gadjah Mada University          Press.Yogyakarta.
Vos, J.G.M. 1994. Pengelolaan Taanaman Terpadu Pada Tanaman Cabai Dataran Rendah Tropic. Balai Penelitian Hortikultura. Lembang,
Zulkarnain, H. 2009. Dasar-Dasar Hortikultura. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta.

Artikel Terkait Contoh Makalah

Title Post: Contoh Makalah Pertanian, Pengendalian Penyakit Bercak Daun Cabai
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Author: siyu siti

Terimakasih sudah berkunjung dan membaca artikel di blog Cari Solusi.